Resensi Novel

Judul Buku                  : Tak Sempurna
Pengarang                   : Fahid Djibran, Bondan Prakoso & Fade2Black
Penerbit                       : Kurniaesa Publishing
Tebal Buku                  : 245 halaman

Novel ini tentang anak anak sekolah yang dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan. Menurutnya sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya. Sehingga mereka frustasi dan meluapkannya ke pergaulan di luar yang tidak baik. Sampai akhirnya mereka bisa sadar dengan perbuatannya yang salah itu

Buku ini ditulis oleh Fahd Djibran. Ia lahir di Cianjur, 22 Agustus 1986. Penulis yang dikenal dengan karya-karya kreatifnya serta pemikiran-pemikiran segarnya tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Beberapa bukunya yang telah diterbitkan antara lain A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan (2011), dua buah novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan dan Menatap Punggung Muhammad (2010), serta sebuah karya kolaborasi bersama Bondan Prakoso & Fade2Black dalam bentuk fiksi-musikal, Hidup Berawal Dari Mimpi (2011).Di samping itu, ia juga meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam bidang penulisan dan pemikiran, antara lain: UNICEF Young Writer Award, DAR!Mizan Unlimited Creativity Award 2006 Sebagai Penulis Terbaik, Juara I MTQ Tingkat Nasional Bidang Karya Tulis Al-Quran, penghargaan Ahmad Wahib Award 2010 dari Yayasan Wakaf Paramadina dan Hivos Foundation, dan lainnya.
Novel ini mengisahkan seorang remaja bernama Rama. Dia dengan jujur menceritakan apa yang dialaminya, serta segala sesuatu yang bersinggungan dengannya. Seorang pelajar SMA Lazuardi atau lebih dikenal dengan Lazar-yang telah beberapa kali terlibat dalam aksi tawuran antar pelajar dengan SMK Citra Bangsa. Tawuran yang pada akhirnya menyeret seorang sahabat dari Rama untuk mendahului ajalnya, seorang sahabat yang memberikan kesan terhadap perjalanan hidupnya. Dialah Andri Nugraha.
Tawuran itu pulalah yang telah merenggut nyawa seorang pelajar dari SMK Citra Bangsa yang lebih akrab mereka sebut sebagai kelompok Chibank. Ya, dialah Yogi Hudaya, seorang ‘aktivis’ dari kebrutalan aksi-aksi yang dilakukannya. Banyak korban yang semakin berjatuhan, termasuk Rama sendiri yang dengan sangat terpaksanya kehilangan satu kakinya. Dari tawuran itu pulalah yang telah membuka mata hati dan jalan pikiran Rama menjadi semakin terbuka. Semacam cahaya kehidupan yang memberikan cahayanya dengan ikhlas ke dalam kegelapan jiwa, hati, dan pikirannya. Sebuah penyesalan yang sangat menyedihkan dalam sejarah kehidupannya.
Ya, lingkungan keluarga pun memang selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dalam berjalannya pendidikan. Sebuah lingkungan keluarga para pelajar yang membuat para pencari ilmu justru menjadi broken home yang pada akhirnya menyeret kelakuan para korban ketidakharmonisan keluarga ini ke arah penyimpangan tingkah laku, kekerasan, kekajaman, serta kemarahan yang membakar dirinya. Tidak sedikit sahabat-sahabat Rama yang menjadi korbanya. Sebagian besar dari para ‘aktivis’ tawuran itulah contoh dari pelampiasannya.
Kelebihan lain dari novel ini adalah kehadiran lirik-lirik lagu Bondan Prakoso & Fade2Black, serta selingan-selingan lain yang relevan. Hal ini membuat pembaca –terlebih kalangan remaja- tidak jenuh. Tapi yang paling bikin kagum, bagaimana novel ini bisa membawa kita seolah-olah melihat secara langsung kejadian yang diceritakan. Seolah-olah penulis benar-benar mengalaminya. Kemudian dia bercerita langsung dihadapan kita.
Kekurangan lain dari novel ini adalah kesalahan-kesalahan pengetikan, seperti pada halaman 49, benarkah ditulis benarkan, halaman 209 memulai jadi memuai. Terdapat ucapan-ucapan kasar yang secara terbuka dituliskan dalam buku ini mungkin sedikit mengurangi kesempurnaannya bagi pandangan beberapa orang.
Menurut saya walaupun ceritanya sederhana tapi banyak memberikan banyak pesan tentang budi pekerti yang baik sebagai bangsa Indonesia yang berpendidikan, masukan penting bagi sekolah, dunia pendidikan, dan bangsa kita pada umumnya. Semoga kita menjadi tersadarkan, bahwa masih banyak teman-teman kita yang harus kita tolong dan selamatkan. Semua ketimpangan ini bukan untuk kita cela, namun kita perbaiki.

Komentar